Jakarta – Operasional di fasilitas produksi baterai milik gabungan Hyundai dan LG di Georgia, Amerika Serikat, harus mundur akibat razia besar-besaran oleh otoritas keamanan dalam negeri Amerika Serikat.
CEO Hyundai, Jose Munoz, menyatakan bahwa kejadian ini akan menyebabkan penundaan selama berbulan-bulan.
Disitat dari Tech in Asia, razia yang dilakukan oleh Department of Homeland Security (DHS) tersebut adalah operasi terbesar dari jenisnya yang pernah dilakukan.
Dalam razia itu, sedikitnya 475 pekerja yang ditangkap, dan sebagian besar dari mereka adalah warga negara Korea Selatan.
Setelah proses penyelidikan satu bulan, petugas menetapkan bahwa banyak pekerja yang bekerja secara ilegal di fasilitas tersebut, di mana perusahaan Hyundai bekerja sama dengan LG Energy Solution untuk memproduksi baterai kendaraan listrik.
Lokasi ini sebelumnya dipandang positif karena investasi yang sangat besar, yaitu US$ 7,6 miliar, namun hal tersebut tidak menghalangi penyidikan terhadap praktik ilegal yang terjadi.
Menurut laporan The Hill, dari 475 orang yang ditangkap, sekitar 330 orang telah dibebaskan. Hal tersebut, termasuk 316 warga Korea, 10 warga Tiongkok, tiga warga Jepang, dan satu warga negara Indonesia.
Masalah di Pabrik Hyundai
Kemudian, yang dibebaskan kemudian dikirim ke Bandara Internasional Hartsfield-Jackson di Atlanta menggunakan bus, lalu diberangkatkan dengan pesawat yang disewa pemerintah Korea Selatan.
Memasuki tahap selanjutnya, Hyundai menyatakan akan menggunakan pasokan baterai dari fasilitas lain sementara pabrik LG di Georgia belum bisa beroperasi.
Salah satu fasilitas cadangan yang disebutkan adalah pabrik di Georgia yang sebelumnya milik usaha patungan lain, SK On.
Kejadian ini diperkirakan akan memberi dampak tidak hanya ke kalender produksi, tetapi juga ke citra investasi asing di AS, terutama dalam bidang energi bersih dan kendaraan listrik. Hyundai dan LG dituntut memastikan kepatuhan terhadap regulasi imigrasi dan ketenagakerjaan agar insiden serupa tidak terulang pada masa datang.